HurufHening

Sunday, January 11, 2015

Sahabat Yang Agung

Anak-anak yang bersahabat. (Google.com)
KAU memanggilnya sahabat. Adalah jiwa yang berdiam denganmu dimasa lampau. Kamu melangkah bersamanya, menapakki musim yang tak terbilang kala itu. Dengannya kamu bermain, melukis cerita disetiap lengkung pelangi, di dalam musim yang seringkali tak ramah. Hasratmu menyatu dengannya dalam denyut nadi yang sama. Pada dahan kehidupan yang sama itu pula, kau bertumbuh bersamanya.

Matanya adalah cermin. Memantulkan sukacita sampai ke relung jiwamu yang paling dalam. Demikian juga dia, tak pernah ragu mengadukan setiap nestapa, yang seringkali membuat matamu menjadi basah. Sebab kala itu, usia memang masih terlalu muda.

Setiap hela nafas menjadi satu-satunya guru bagi kesadaran. Tak ada hal lain kecuali jiwa yang berbagi, tentang hidup dan kehidupan. Tak ada tawamu yang benar-benar sendiri. Tidak pula dukanya jatuh tak berdaya, tertikam kesunyian. Sebab kamu ada di dalam dia, demikian juga dia di dalam kamu. Begitulah ia yang kau panggil sebagai sahabat kala itu.

Tetapi, musim kini telah menjadi tua. Pun pengalaman telah mengambil jalannya sendiri. Masing-masing kepala tak lagi akrab berbincang di ruang yang sama. Demikian juga rasa, tak lagi mengalir ke arah yang sama seperti dulu. Kau dan dia telah menjadi sungai, yang tak pernah lagi bertemu pada muara keajaiban. 

Lalu saat musim menjadi semakin acuh, setiap keinginan hanyalah perlombaan untuk meraih medali kehidupan. Asa pucat-pasi, melahirkan ketakutan pada masa depan. Waktu yang bernama hari ini, telah melemparkan dirimu dan dirinya kedalam dunia mimpi. 

Sesungguhnya, waktu telah memisahkan batinmu dan juga dia. Menjadi seperti orang asing yang terlahir dari rahim yang tiri. Kamu telah kehilangan dia dalam setiap lembar kisah, yang pernah kau tulis pada hari-harimu yang dulu. Begitu juga dia, akut dalam kelupaan panjang akan dirimu. 

Hari ini kau mengais tanya tentang dia. Tetapi jawaban hanyalah jelaga yang mengaburkan intuisi. Demikian juga dia, mungkin telah lupa pada bibirmu itu, yang fasih bertutur tentang pesona kebahagiaan. Atau dia yang lupa, bahwa suatu ketika hiruk amarah pernah membakar wajahmu. Ya, saat dunia meninggalkanmu kala itu. Saat kehidupan berpaling dari tatapmu yang melindap. 

Akan tetapi satu kelupaan besar selalu berkuasa didalam kepalamu. Pada kesadaranmu yang lumpuh itu, masih ada satu nama tersemat dikeningmu. Kau memanggil nama itu sebagai kenangan. Begitu juga dia, memanggilmu dengan sebutan yang sama. Sebab tak ada nama lain lagi yang membedakan kamu dengan dia hari ini. Itulah satu-satunya nama baginya dan bagimu. Nama yang masih kau simpan dalam lipatan pikiranmu yang rapi. Dan ketahuilah, mungkin saja dia melakukan hal yang serupa denganmu tentang nama itu. 

Ketika kau memanggil kenangan di dalam kepalamu, kamu akan tahu bahwa rindu telah menjadi jarak yang paling jauh. Entah berapa kali pikiranmu ingin pulang kepadanya. Namun sebanyak itu pula kau tenggelam dalam samudera kesepian yang begitu dalam. 

Saat kau meminta kepada waktu tentang sebuah pertemuan, tak sekalipun kesempatan datang kepadamu. Akhirnya kau menyalahkan langit, sebab bagimu waktu selalu bisu. Sebisu musim yang menggurkan usia. Kali ini, cengkrama bersama kenangan adalah rindu yang sia-sia. Serupa angin yang tak bisa kau genggam. Dan seketika itu juga berderailah matamu, mengalirkan butiran harapan dalam bentangan perpisahan yang panjang. 

Lalu kau hantarkan kekhawatiranmu dalam balutan mantra jiwa. Merangkai persembahan dihadapan altar langit, agar semua kerinduan itu dilunaskan secepatnya. Akan tetapi, langit tetap saja bisu. Sebisu dermaga, menantikan perahu yang telah lenyap ditelan gelombang. Dan tentang hari esok, pertemuan hanyalah kegairahan semu belaka. Sekali lagi, kau harus memeluk kenangan. 

Namun Aku berkata kepadamu. Sesungguhnya engkaulah waktu. Satu-satunya kenyataan tentangmu adalah saat ini. Waktu dimana kau hanya bertemu dengan Dirimu sendiri. Dan setiap kisah tentang persahabatan itu, tidak lagi tinggal dimasa lalu. Tidak juga berdiam dimasa depan. 

Kau terlalu hibuk meratapi kenangan, menjadikanmu tega terhadap kesadaranmu sendiri. Berhentilah bertengkar dengan pikiranmu, bahwa setiap pengalaman memang harus memilih jalan yang berbeda. Sapalah kecemasan yang berlari terlalu kencang, untuk sejenak melembutkan denyut keikhlasan. Sebab kau tak memiliki hukum apapun yang mampu menundukkan semesta. Dialah yang melahirkanmu, dan melahirkan segalanya tentang sahabat jiwa. 

Tulislah didalam kepalamu, dan bacalah berkali-kali. Bahwa sahabatmu yang karib adalah Dirimu sendiri. Kau telah bertemu dengannya yang adalah dirimu. Berkali-kali sepanjang usiamu. Sebab dengan siapakah kau bertanya selama ini tentang sesuatu yang telah lewat? Atau, dengan siapakah kau bersekutu, mempersiapkan segalanya dalam pengembaraan pada hari esok? Ya, tak ada sahabat lain selain kamu sendirilah itu. 

Jika dulu kau pernah bertemu dengan dia, maka itulah kamu. Dan jika hari esok menghadirkan dirinya dihadapanmu dalam rupa yang lain, maka itulah kamu. Sebab kau tak pernah tidak bertemu dengan siapapun. Sekalipun dalam kesunyian, kau senantiasa bertemu dengan Dirimu. 

Inilah persahabatan yang sesungguhnya. Dimana kau tak akan merindukan atau mencemaskan apapun juga. Karena di dalam kamu selalu hadir Keagunganmu, yaitu saat ini

_/\_

Seruni, 11-01-2015

Sahabat Yang Agung Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Kepala Jiwa

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

HurufHening