HurufHening

Wednesday, March 18, 2009

Takutkah Aku ?

Bocah yang ketakutan (@ thespiritscience.net)
Hampir seperempat abad lamanya jantungku berdetak. Hentakan yang menyatu dengan kegairahan hidup dalam irama kebahagiaan yang ingin selalu kumiliki. Namun detak jantungku terasa sia-sia jika tanpa nafas yang berawal dari rahim ibuku.

Dan terkadang pula nafas itu menyatu dalam kepedihan akibat luka yang hampir tak dapat sembuh. Terkadang pula aku harus mencari seorang tabib yang dapat menyembuhkan luka ini.

Namun yang sering kudapatkan adalah tabib palsu. Apakah kini semua telah berubah dan tak dapat kembali seperti semula ? Mengapa dunia ini semakin sempit saja ?

Nafasku terasa sesak dan aku terhimpit di antara dilema yang berkepanjangan bagaikan kemarau yang membenci musim hujan.

Sesungguhnya yang ada dalam hari-hari ini hanyalah ; Mau dan Tidak mau. Harapan dan Keputusasaaan. Kasih dan Kebencian. Hidup dan Mati.

Namun aku lebih memilih Tidak mau daripada Mau. Sehingga dalam langkah-langkahku sering kutemui Keputusasaan daripada Harapan akan kemenangan.

Dalam setiap perjumpaan yang diselenggarakan oleh Sang Ilahi, yang ada hanyalah Kebenciaan yang membuat aku tak mampu untuk berbagi Kasih. Apa yang terlihat oleh mataku hampir tak dapat kuterjemahkan dalam kata-kata nurani. Kemudian dalam sesaat terlintas kata Mati daripada Hidup.

Hancurlah sudah hari kelahiranku, dimana pada hari itu adalah hari pertama saat aku memandang Kasih sebagai bukti penyelenggraan Kehidupan oleh Sang Hidup. Semua terasa sia-sia belaka.

Disini, aku masih disini. Berada dalam penantian panjang yang melelahkan. Ditempat dimana keletakkan kepalaku pada malam hari masih tak kujumpai mimpi-mimpi yang memberikan makna dari pencarian yang kulakukan pada siang hari.

Sepertinya matahari sengaja menyembunyikan hal pencarianku itu sehingga menjadi misteri harta karun yang tak pernah terlihat dan tak pernah kutemukan. Dan rembulan tak lagi melahirkan malam yang berpakaian mimpi hidup.

Sejenak aku berhenti dari perjalananku dan aku masih berdiri disitu. Kupandangi jalan yang terbentang didepanku. Kusadari perjalanan ini masih sangat panjang.

Dan jika aku masih diijinkan untuk menembusi waktu, akan ku lanjutkan perjalanan ini walaupun mungkin didepan sana kegelapan masih menunggu dalam senyuman yang menjatuhkan.

Namun Takutkah Aku.? Tidak.! Sebab lilin yang ada dalam hatiku ini masih menyala walaupun apinya terasa mengecil dan cahayanya terlihat redup.

Takutkah Aku ? Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Kepala Jiwa

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

HurufHening