HurufHening

Sunday, November 1, 2015

Ketika Musim Berganti

Anak kecil di bawah hujan (@ newslinq.com)
Oktober telah pergi menitipkan pesan berbau hujan. Ini adalah isyarat bahwa musim yang baru akan menemui bibirmu, menggigil bersama cangkir dan candu dimulutmu. Hujan kali ini bukanlah hujan yang pura-pura, sebab udara tak lagi membuat tubuhmu kering seperti kemarin. Ia datang membawa sajak baru. Sebagai tabib sekaligus sebagai maut yang mengintai dibalik jendela.

Di kejauhan, El Nino telah bergegas pulang. Derita bernama asap perlahan mulai terobati. Jiwa yang mengaduh di sepanjang waktu kemarin, untuk sesaat bersembunyi dalam kelupaan. Bersorak-sorai memeluk kesejukan. Dan dadamu berangsur lapang disaat ISPA mulai melambaikan tangan. Selimut tebal mulai dikibarkan siang dan malam. Waktu akan menidurkanmu, serupa bayi yang terbungkus lampin. Sejak saat ini, Kau akan menggigil dalam waktu panjang.

Ketika ada nyawa yang kering pergi, demikian juga akan akan ada nyawa tenggelam di musim ini. Matamu terpaku pada langit yang meramu anak panah. Dan saat itu juga air tumpah diatas kepalamu. Di beberapa tempat, tulang-tulang tak hanya menggigil, melainkan hanyut bersama arus yang keruh. Di bagian lain, bukit-bukit meruntuhkan air mata. Mengubur jiwa-jiwa yang terlelap dalam mimpi yang belum usai. Duka baru pun bersahutan seperti bunyi guntur memecahkan angkasa.

Seperti kemarin, entah berapa kali lagi Kamu kan mengumpat cuaca ketika rejekimu direnggut gerimis yang berubah menjadi badai?. Sudahkah Kau bertanya kepada kursi dan meja itu, akankah mereka kesepian ketika bokongmu penuh dengan alasan untuk tidak duduk melayani?. Berapa kali Kau kan terbaring tanpa daya sembari pasrah meneguk pil-pil mahal itu?. Atau, sanggupkah Kau tak menyalahkan setetes air yang menghadang langkahmu, membasahi pakaian yang kau kenakan untuk beribadah itu?.

Tak ada cara lain untuk mengerti, kecuali Kau sungguh-sungguh mau "mengakui" bahwa ada "Kekuatan" yang akan menguasaimu disepanjang musim ini. Dan satu-satunya bekal untuk masuk ke dalam rahasia ini adalah dengan menggelar pikiranmu yang lapang tanpa melahirkan konflik di dalam batin. Sebab ketika waktu telah menyuguhkan cawan nestapa di hadapanmu, maka mungkin saja Kau akan menyebut nama setiap musim yang datang sebagai "Bencana". Begitukah? Bukankah satu-satunya bencana adalah kelupaanmu yang panjang. Kamulah satu-satunya yang menciptakan hal itu terjadi.

Tidakkah Kau ingat bahwa sejak awal mula Api, Udara, Air dan Tanah telah menyulam nafasmu dengan Cinta Semesta?. Menjadikan Dirimu sebagai wujud yang hidup. Namun Kau terlalu bergairah, sehingga Kau mabuk dalam sukacita yang menyesatkan. Keinginanmu yang selalu lapar telah menghancurkan rumahmu sendiri.

Baca juga : 
Namun ketahuilah, Semesta selalu memiliki berjuta cara menyembuhkan dirinya sendiri. Juga menyembuhkan setiap luka yang ada padamu. Kau hanya tak mendengar bagaimana IA berbicara kepadamu melalui musim-musim itu. Kau lebih suka mengahamburkan doa-doamu ditepi jalan agar setiap makhluk melihatmu.

Kau lupa untuk berdiam sejenak, membuka setiap inderamu. Kau tak mengenaliNya sebagai Api yang menghangatkan tubuhmu. Kau tak menghirupNya sebagai Udara yang melegakan nafasmu. Kau tak menegukNya sebagai Air yang kemudian mengalir di dalam darahmu. Dan Kau tak merasakanNya sebagai Tanah, tempat Kau meletakkan kakimu tuk berpijak. Karena itulah, Kau tak mengenali siapa Kamu sebenarnya.

Sudah saatnya bagimu untuk mengerti setiap kata yang diucapkan oleh musim-musim itu. Sebab dimanakah lagi tempat tinggalmu yang paling indah dari ini? Tak ada, kecuali di sini. Disinilah setiap sajak melahirkan pengertian baru, yang tak Kau temukan dalam setiap buku yang Kau anggap Suci itu.

_/\_

Karimawatn, 01-11-2015

#AkhirKabutAsap2015

Ketika Musim Berganti Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Kepala Jiwa

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

HurufHening