![]() |
| Bersama kakek (@ Google.com) |
Tatkala ragu membentang,
Tabir membatasi hati,
Tabir membatasi hati,
Tak dapat bicara seakan mati.
Melintang badan di padang penjajah,
Merasa tertantang jiwanya.
Dia lihat cermin diri,
Wajah kecut pucat tak bernyali.
Tak ia rasakan api membakar hati, padam.
Hanya gentar untuk berlari menyerang dan gemetar untuk berdiri menghadang.
Ditanahnya neraka menjelma.
Dia pandang semua saudara tak bernyawa.
Hatinya hancur tak bersisa.
Ditidurkannya mereka untuk selamanya.
Tatkala ragu membentang, tabir membatasi hati,
Tak dapat bicara seakan mati.
Melintang badan di padang penjajah,
Merasa tertantang jiwanya.
Semilir angin mengalir,
Dikala ia berdiri di bawah pohon, daunnya layu, gugur satu-persatu.
Terdengar olehnya suara-suara berkata penuh makna membara ;
Kata mereka kepadanya ;
“Hai pemuda mengapa kau diam saja?
Jangan pikir-pikir nyawa,
Jangan pikir-pikir harta.
Bukankah kau yang kuburkan kami ?!
Tiada lagi hari bagimu.
Kini pergilah !
Cari dan rebutlah dengan darahmu.
Jangan takut !
Jangan takut !
Jangan takut !
Berjuanglah bagi ibumu.
Kini ia sadar akan tangis ibu
Bangsa tercinta.
Ragu telah melayang.
Tabir yang terkoyak membuat hatinya bicara.
Tak rela badan bulanan penjajah.
Ia mau menyerang.
Lalu dinyalakannya obor,
Dibakarnya jiwanya,
Dibakarnya semangatnya.
Tak gentar ia berlari, menyerang.
Tegap ia berdiri menghadang.
Bagai harimau yang garang.
Suara itu....ya, suara itu masih didengarnya ;
Jangan takut !
Jangan takut !
Jangan takut !
Tak terkira peluru menghujaninya.
Terus ia menggarang, menyerang.
Hingga akhirnya ia jatuh terkulai,
Ketika sebuah ajal menembus kepalanya.
Masih sempat ia berkata ;
Aku puas, kini tiba saatnya bagiku kembali kepada-Mu.
Aku menang, aku menang.
Lalu ia tak tahu apa-apa lagi, ia tidur, tapi ia telah bebaskan bangsa.
Kini ragu tak lagi membentang.
Tabir tak lagi batasi hati.
Sesuka hati bersuara dalam kebebasan, bangsa yang tenang.
Ditengah malam Rabu,
Hitamnya malam ganti awan biru,
Kakek ceritakan ini padaku,
Dalam pondok berdinding bambu.
Cerita tentang temanya yang pilu.
Aku hanya termangu dan terharu.
Kejamnya penjajah kala itu,
Terasa ditusuk sembilu.
Sungguh tak tahu malu,
Karena membuat ibu bangsaku menagis tersedu.
Kini sadar aku,
Meski itu telah berlalu bertahun-tahun yang lalu,
Jaman yang kelabu.
Aku tahu, aku harus maju,
Berjuang tanpa runcingnya bambu dan peluru.
Cerita kakek memukauku,
Hingga bayanganku kembali ke masa lalu.
Hanya dua kata penutup cerita pilu,
Dengan teriakan mudamu,
Terdengar memacuku ;
Jangan takut !
Ditulis : semasa masih SMA kelas 3, tahun 1998



0 comments:
Post a Comment