![]() |
| Lelaki dan senja. (Google.com) |
Aku serupa beranda dalam senja. Menatap kehidupan yang terdiam kaku. Sejenak kudengarkan nyanyian yang sayup-sayup dari bidadari impian. Memanggil kebisuanku untuk berbicara kepada kehidupan.
Kepada rerumputan yang termenung, kubagikan juga keputusasaanku. Sebab rerumputan yang tumbuh di depan rumahku juga merasakan kesunyian yang sama dengan kekosongan hatiku. Kutanyakan kepada alam, mengapa dirinya tidak lagi menyapa roh kehidupanku ini?.
Kegelapan malam menghantarkan imajinasiku kepada mimpi yang tak pernah berakhir. Disana terdapat sejuta tanda tanya yang menghiasi pikiranku. Seakan Sang penguasa tak lagi memberi kesempatan kepada nafasku untuk menghirup aroma keindahan dan kebahagiaan.
Yang terlihat di sekelilingku adalah dilema antara hidup dan mati. Juga antara hitam dan putih warna keputusasaan. Dimanakah saudaraku-saudaraku yang pernah bertukar tawa denganku?
Cermin yang terpasang di dalam kamar hatiku tak mampu menciptakan bayangan nyata jati diriku. Mengapa di sudut-sudut antara gelap dan terang tak dapat kutemukan puing-puing cendramata anugerah sebuah harapan?
Kehidupan yang kurasakan bukan lagi kehidupanku yang nyata. Hidup yang kini kugenggam kudapatkan dari dunia yang semu dalam jalan yang tersesat. Jiwaku berada di ujung ketakutan sebuah pedang yang menjajikan kematian yang abadi. Air mata yang mengalir dari dalam mata hati tak mampu mengusir kehancuran yang berjalan menghampiri diriku.
Cahaya surgawi yang kulihat semakin jauh meninggalkan langkahku yang semakin meletihkan. Sementara itu cahaya api neraka berteriak memanggilku dari belakang dan meminta aku untuk menantikan dirinya. Aku terjerat oleh perangkap yang membangkitkan nafsu manusiawi, nafsu yang terdapat didalam dunia tak berbentuk. Siang dan malam sebagai lambang keadilan dari Sang Pencipta telah kujelajahi dalam bentuk penipuan yang datang melalui perantara mata yang terpasang di kepalaku.
Kebahagiaan yang kuminum bukan berasal dari cawan keselamatan, melainkan dari gayung yang digunakan untuk menumpahkan minyak agar api neraka tetap menyala. Anugerah kepuasan yang tersimpan di dalam perbendaharaanku tidak kugunakan untuk persiapan menyongsong keabadian dalam bentuk roh yang kekal, melainkan untuk menyicil kematian yang semakin dekat. Mulut dan lidahku tidak dapat menyanyikan syair-syair yang bijak, melainkan kata-kata penuh racun berbisa. Kebanggan yang bersarang dalam tubuhkuadalah kemunafikan dengan wajah pura-pura.
Namun disaat-saat aku berada dalam ketidakberdayaanku yang diwarnai dengan warna-warna kecemasan, nuraniku membisikkan penyesalan. Aku menangis di atas ranjang dimana jiwaku terbaring lemah tanpa daya. Tatapanku memandang lukisan halus pertobatan yang terpampang di depan mata.
Di dalam lamunanku, roh yang mengenakan jubah cinta kasih menuntun aku kedalam mimpi. Disitu aku dihantarkan mencari bekas jejak langkahku dan menghapusnya untuk selama-lamanya.
Sebelum ajal menjemput aku dengan kereta penuh api dan disertai serdadu-serdadu malaikat, aku ingin menitipkan kata-kata dan disertai dengan senyuman kemenangan yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan. Aku harus bangkit dari tidur yang menyesatkan ini, sebelum mimpi kematian datang dan mengajak aku ke neraka.
Ditulis tanggal 3 September 2000



0 comments:
Post a Comment