![]() |
| Wajah kemiskinan yang tergambar dalam raut muka seorang anak kecil. (Google.com) |
Jauh sudah aku melangkah. Kususuri jalan yang penuh dengan permainan manusia. Tak kulihat kebahagiaan dalam bentuk tawa. Aku senantiasa tersandung pada kesedihan. Tak ada lagi tempat untuk berteduh agar aku tak kedinginan dari derasnya hujan air mata.
Saat aku mencoba untuk bersandar pada sebuah tembok yang kokoh, ingin kunikmati anugerah Sang Pencipta. Ingin kuhirup nafas sejati dari sesaknya sebuah kebohongan. Ingin kunikmati sejuknya mata air yang keluar dari puncak kebebasan.
Ingin kusaksikan tarian para dayang surgawi yang diwarnai meriahnya warna-warni angkasa. Ingin kurasakan hangatnya seberkas sinar pagi yang datang meninggalkan mimpi-mimpi malam. Ingin kudengarkan nyayian damai para unggas. Ingin kulihat langit yang tak dipenuhi dengan awan mendung kematian.
Namun jauhnya angan yang melayang entah kemana. Aku terkejut oleh tangisan seorang anak kecil yang telanjang. Ia datang kepadaku dan meminta aku untuk memeluknya.
Suara tangisnya penuh dengan irama kepedihan. Tubuhnya yang kotor membuat ia bukan lagi seperti anak manusia, melainkan seorang anak yang terlahir dari rahim kesengsaraan.
Dalam hatinya terdengar jeritan yang berteriak memanggil dirinya. Jeritan penuh luka pada orang-orang tercinta. Dari matanya tergambar jelas wajah-wajah orang yang ia cintai dalam hangatnya kasih sayang. Namun, kini ia tak lagi mengenali air matanya. Air mata itu hanyalah air mata yang menetes deras dari ganasnya peperangan manusia.
Bocah itu kugendong dan kubawa pergi menuju tempat dimana aku ingin menangis bersamanya. Kesedihan yang mengikuti langkahku menuntun aku pergi entah kemana. Badan ini menjadi lelah kembali.
Namun tak lama kemudian kulihat sebuah gubuk kosong di pinggir sebuah jalan diantara perempatan macet yang menjadi penginapan mewah para gelandangan. Di sana nuraniku memanggil untuk beristirahat. Bocah yang berada dalam pelukanku itu ternyata telah tertidur ingin mencari mimpi bersama orang-orang yang ia cintai.
Tatapan mataku memandang tanpa arti keseluruh ujung-ujung ketidakadilan. Dari seberang kulihat sesuatu yang membuat peristirahatanku menjadi sebuah tangisan hati. Di sana terlihat dengan jelas perbedaan jiwa-jiwa manusia yang berbicara dengan mengenakan pakaian kesombongan.
Ketidakadilan bergembira ria ditambah dengan hentakan yang menggelegar dari irama kehancuran sendi-sendi moralitas. Permainan dalam bentuk kecurangan semakin meriah laksana pesta para diktator. Kebohongan telah menjadi santapan lezat para pendusta.
Manusia kini bukan manusia lagi. Agama bukan lagi menjadi bahtera yang digunakan manusia untuk berlayar mencari pulau nirwana Sang Pencipta.
Jika manusia mempunyai mata dan telinga, maka ia seharusnya dapat melihat dan mendengar dengan sungguh-sungguh. Sebab orang miskin yang terlihat sedang menangis tak dapat lagi mengubah irama tangisnya untuk mendapatkan belas kasih dari jiwa sesamanya.
Orang-orang kaya seperti sudah tak dapat lagi menterjemahkan arti dari sebuah kepedihan yang dirasakan oleh para orang miskin. Para penguasa tak lagi mengerti definisi kata "Rakyat Miskin"
Dari gubuk itu aku melihat sembari menemani si bocah tertidur pulas dengan mimpi-mimpinya. Tak jauh dari situ terdapat empat buah lampu merah yang berdiri tegak menghiasi perempatan, dimana keadaan penuh sesak dengan kendaraan-kendaraan yang sedang antri menunggu giliran untuk melaju dari setiap arahnya.
Gubuk yang reot itu menjadi saksi dimana didalamnya aku menumpahkan segala-galanya. Airmataku tertumpah dengan deras manakala kulihat para pengemis merelakan kulit mereka terbakar oleh sengatan matahari yang dibalut oleh pekatnya asap kendaraan demi sebuah kebahagiaan hari itu. Para gelandangan dengan terseoh-seoh melangkah mencari tempat untuk meletakan kepala dan memejamkan matanya.
Sejenak kedua mataku terpancing pada sebuah gedung rumah sakit yang berada tepat di seberang jalan yang berhadapan dengan gubuk reot dimana aku dan bocah itu sedang melepaskan lelah.
Adalah pemandangan yang memilukan, sebab rumah sakit itu kini bukan lagi menjadi tempat bagi manusia yang sungguh-sungguh memerlukannya. Dengan dinding-dindingnya yang kokoh dan sombong ia menjelma menjadi sebuah hotel.
Harga sebuah nyawa orang-orang miskin yang berada di ujung ajal hanya ditaksir dengan nilai yang sangat-sangat murah apabila mereka tak mampu membayar ongkos pengobatan. Pelayanan rumah sakit yang sombong itu terbatas hanya pada orang-orang yang mampu membayar dengan nilai tunai.
Sungguh, manusia kini bukan manusia lagi. Manakala kolaborasi kasih dan keadilan tak lagi menari bersama di dunia ini.
Arti dari sebuah cinta yang sementara. Manusia hanya dapat memberikan cintanya yang sesaat, setelah itu berakhir dengan jeritan perih yang menyiksa batin jiwa-jiwa tak berdaya.
Sebab seorang pelacur yang melayani pelanggannya hatinya menangis meskipun tak ada air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Ia terpaksa menjual desahan nafasnya demi meraih sebuah harapan akan masa depan yang layak bagi anak-anaknya.
Hatiku bicara semakin jauh tentang cinta. Dari dalam gubuk reot itu terlihat wajah-wajah cinta yang menjelma menjadi wajah-wajah yang mengerikan, wajah-wajah tanpa harapan.
Kini aku melihat cinta itu terpasung tak berdaya. Cinta yang tulus tak lagi terbang bebas ke setiap jiwa, sebab nurani sudah menjadi kotor. Lalu, kemanakah Cinta itu pergi? Kemanakah dunia yang hilang itu?



0 comments:
Post a Comment