![]() |
| Yang kuinginkan hanyalah menjadi sahabatmu, selamanya. (@ happyfriendshipday.co.in) |
Ketika mata hati tertutup oleh gelapnya awan hitam yang melayang di atas puncak pegunungan cinta, semua jalan yang kini kau lalui menjadi suram. Kutahu semua itu membuat dirimu tertekan. Kesedihan yang kau rasakan tak terlukiskan.
Seluruh isi alam pun menagisi dirimu. Daun-daun kehijauan tiba-tiba gugur, mneinggalkan ranting-ranting dari pohonnya. Seperti diterpa badai yang sangat dasyat.
Aku, sahabatmu, melihat air mata kepedihan mengalir bagaikan derasnya sungai yang tak mungkin terbendung. Pipimu yang sangat lembut itu kini menjadi basah. Didalam dadamu terdengar gemuruh, layaknya deburan ombak samudera yang mengikis pantai.
Sahabat, kutahu, ini semua begitu menyakitkan. Sebab seekor merpati pun akan menangis, bila ditinggal pergi pasangannnya. Bunga-bunga yang ditanam para dewa dewi akan kesepian seandainya kumbang-kumbang pujaan tak pernah berkunjung lagi.
Jiwa yang hancur, tak akan dapat merasakan indahnya warna-warni pelangi. Belaian-belaian yang begitu manis kini telah hilang begitu saja. Berlian yang sangat berharga itu kini pun telah lenyap. Cinta yang kau simpan didalam hatimu, telah terbang entah kemana.
Sahabatku, yang ingin kusampaikan kepadamu adalah cerita yang memenuhi dunia ; Pria dan wanita, Tua dan muda, Hidup dan mati, Kekayaan dan kemiskinan, Kekuasaan dan penindasan, Baik dan buruk, Penciptaan dan pemusnahan serta perjumpaan yang diakhiri dengan perpisahan.
Dunia memang dipenuhi dengan ketidakserasian. Yang berdiri sendiri hanyalah cinta. Sebab cintalah yang dapat memepersatukan segalanya.
Sahabat, cinta itu tak akan pernah dapat tergambarkan. Tak akan pernah bisa dilukiskan. Namun cinta tak pernah menyakitkan. Sebab yang menyakitkan itu hanyalah manusia yang tak dapat memelihara cinta itu. Cinta kering di tanah yang tandus hanya dapat menyebabkan kebencian.
Dari timur sang raja berjalan menuju peraduannya disebelah barat. Disambut cahaya rembulan. Ditemani tarian para bintang-bintang di angkasa raya. Mereka tetap menghibur bumi ini dari kegelapan yang menyimpan bermacam ketakutan. Hujan membasahi tanah dari kekeringan, agar kehijauan tetap menghiasi wajah bumi ini. Semua itu diberikan kepada manusia oleh sang pemilik cinta yang abadi.
Sahabat yang baik, tak dapat kuuraikan segalanya dengan sempurna. Yang saat ini kulihat, Dirimu sedang mencari tempat untuk bersandar. Dan dari perjalananmu yang sangat melelahkan itu, Kau cari sebuah pohon yang cukup rindang untuk berteduh dari kepanasan.
Janganlah lagi kau menangis. Sebab seluruh isi jagad raya ikut bersedih. Janganlah kau basahi wajahmu yang manis itu dengan air mata yang sangat mahal harganya. Berjalanlah bersama hati nuranimu. Sebab hanya itulah satu-satunya teman sejatimu yang sampai saat ini selalu setia.
Dikala pagi, rasakanlah kehangatan sang surya yang menampakkan wajahnya dibalik jendela kamarmu. Dengarkanlah nyanyian para burung yang tak sudi melihat dirimu menangis.
Ceritakanlah pada seluruh isi kamarmu, tentang kepedihan yang kau rasakan. Sebab tempat dimana kau rebahkan tubuhmu yang indah itu, telah menjadi saksi dari segala cerita tentang dirimu.
Apakah kau lihat, dinding dan langit-langit kamarmu juga ikut menangis? Sadarkah dirimu bahwa di tempat peraduanmu itu telah kau petik bunga-bunga mimpi?
Dengan jari-jarimu yang lentik dan indah itu, gunakanlah sebuah pena untuk mengukir perasaanmu pada buku harian yang masih tersimpan rapi.
Sahabat, belajarlah melihat dan mendengar mata hati. Sebab sebenarnya orang yang buta dan bisu itu lebih mulia bila dibandingkan dengan diriku yang memiliki mulut dan sepasang mata. Belajarlah melihat apa yang tidak kelihatan dari pada apa yang kelihatan.
Sahabat, akhirnya ingin kuakhiri perjumpaan ini. Kini saatnya aku harus kembali meneruskan pengembaraanku yang masih sangat jauh. Terima kasih atas tumpangan yang kau berikan kepadaku.
Kuberikan kepadamu sepucuk daun lontar ini. Simpanlah, karena hanya ini yang kumiliki. Dan tak ada yang lebih mahal lagi, sebab aku sangat miskin dalam kata-kata manis untuk penghiburan bagi dirimu.
Baiklah aku pergi. Jaga dirimu dan jangan sampai kau sakit.
Seluruh isi alam pun menagisi dirimu. Daun-daun kehijauan tiba-tiba gugur, mneinggalkan ranting-ranting dari pohonnya. Seperti diterpa badai yang sangat dasyat.
Aku, sahabatmu, melihat air mata kepedihan mengalir bagaikan derasnya sungai yang tak mungkin terbendung. Pipimu yang sangat lembut itu kini menjadi basah. Didalam dadamu terdengar gemuruh, layaknya deburan ombak samudera yang mengikis pantai.
Sahabat, kutahu, ini semua begitu menyakitkan. Sebab seekor merpati pun akan menangis, bila ditinggal pergi pasangannnya. Bunga-bunga yang ditanam para dewa dewi akan kesepian seandainya kumbang-kumbang pujaan tak pernah berkunjung lagi.
Jiwa yang hancur, tak akan dapat merasakan indahnya warna-warni pelangi. Belaian-belaian yang begitu manis kini telah hilang begitu saja. Berlian yang sangat berharga itu kini pun telah lenyap. Cinta yang kau simpan didalam hatimu, telah terbang entah kemana.
Sahabatku, yang ingin kusampaikan kepadamu adalah cerita yang memenuhi dunia ; Pria dan wanita, Tua dan muda, Hidup dan mati, Kekayaan dan kemiskinan, Kekuasaan dan penindasan, Baik dan buruk, Penciptaan dan pemusnahan serta perjumpaan yang diakhiri dengan perpisahan.
Dunia memang dipenuhi dengan ketidakserasian. Yang berdiri sendiri hanyalah cinta. Sebab cintalah yang dapat memepersatukan segalanya.
Sahabat, cinta itu tak akan pernah dapat tergambarkan. Tak akan pernah bisa dilukiskan. Namun cinta tak pernah menyakitkan. Sebab yang menyakitkan itu hanyalah manusia yang tak dapat memelihara cinta itu. Cinta kering di tanah yang tandus hanya dapat menyebabkan kebencian.
Dari timur sang raja berjalan menuju peraduannya disebelah barat. Disambut cahaya rembulan. Ditemani tarian para bintang-bintang di angkasa raya. Mereka tetap menghibur bumi ini dari kegelapan yang menyimpan bermacam ketakutan. Hujan membasahi tanah dari kekeringan, agar kehijauan tetap menghiasi wajah bumi ini. Semua itu diberikan kepada manusia oleh sang pemilik cinta yang abadi.
Sahabat yang baik, tak dapat kuuraikan segalanya dengan sempurna. Yang saat ini kulihat, Dirimu sedang mencari tempat untuk bersandar. Dan dari perjalananmu yang sangat melelahkan itu, Kau cari sebuah pohon yang cukup rindang untuk berteduh dari kepanasan.
Janganlah lagi kau menangis. Sebab seluruh isi jagad raya ikut bersedih. Janganlah kau basahi wajahmu yang manis itu dengan air mata yang sangat mahal harganya. Berjalanlah bersama hati nuranimu. Sebab hanya itulah satu-satunya teman sejatimu yang sampai saat ini selalu setia.
Dikala pagi, rasakanlah kehangatan sang surya yang menampakkan wajahnya dibalik jendela kamarmu. Dengarkanlah nyanyian para burung yang tak sudi melihat dirimu menangis.
Ceritakanlah pada seluruh isi kamarmu, tentang kepedihan yang kau rasakan. Sebab tempat dimana kau rebahkan tubuhmu yang indah itu, telah menjadi saksi dari segala cerita tentang dirimu.
Apakah kau lihat, dinding dan langit-langit kamarmu juga ikut menangis? Sadarkah dirimu bahwa di tempat peraduanmu itu telah kau petik bunga-bunga mimpi?
Dengan jari-jarimu yang lentik dan indah itu, gunakanlah sebuah pena untuk mengukir perasaanmu pada buku harian yang masih tersimpan rapi.
Sahabat, belajarlah melihat dan mendengar mata hati. Sebab sebenarnya orang yang buta dan bisu itu lebih mulia bila dibandingkan dengan diriku yang memiliki mulut dan sepasang mata. Belajarlah melihat apa yang tidak kelihatan dari pada apa yang kelihatan.
Sahabat, akhirnya ingin kuakhiri perjumpaan ini. Kini saatnya aku harus kembali meneruskan pengembaraanku yang masih sangat jauh. Terima kasih atas tumpangan yang kau berikan kepadaku.
Kuberikan kepadamu sepucuk daun lontar ini. Simpanlah, karena hanya ini yang kumiliki. Dan tak ada yang lebih mahal lagi, sebab aku sangat miskin dalam kata-kata manis untuk penghiburan bagi dirimu.
Baiklah aku pergi. Jaga dirimu dan jangan sampai kau sakit.



0 comments:
Post a Comment