Aku teringat kira-kira 2 tahun yang lalu aku dan temanku sedang terlibat dalam satu obrolan. Topik yang kami bicarakan biasanya adalah hal-hal yang berkaitan dengan "hidup dan kehidupan". Entah dari mana awalnya, kami pun tidak tahu, pada waktu itu kami membicarakan sebuah topik tentang kehidupan, yaitu "Kebahagaiaan".
Dalam obrolan santai tersebut kami menyimpulkan bahwa sangat sulit untuk menguraikan apa itu kebahagiaan atau bagaimana sebenarnya definisi yang paling akurat untuk memahami kata bahagia/kebahagiaan ini. Sudah terlalu banyak pemikir, rohaniwan atau filsuf yang berusaha memberi penjelasan tentang hal ini namun pada akhirnya misteri kebahagiaan itu sendiri masih terus terjadi sampai saat ini kepada setiap manusia.
Kami berusaha untuk tidak terjebak pada teori-teori tersebut, dan mengambil salah satu teori mana yang paling bagus untuk kami pakai dalam memaknai kebahagiaan hidup sebab kami sadar kami tak perlu berdebat tentang hal ini.
Namun ada satu hal menarik dari teman saya, dia menceritakan sebuah kisah yang berkaitan dengan kebahagiaan ini. Saya tidak tahu persis dari mana dia mendapatkan cerita ini, atau apakah cerita ini sudah pernah ada yang tahu. Pada kesempatan kali ini saya hanya ingin menceritakan kembali kisah ini yang mungkin dapat dijadikan salah satu bentuk inspirasi bagi Anda.
Beginilah kisahnya ; Ada seorang pemuda yang hobi memancing, sebut saja namanya Ali. Hampir setiap hari tak ada pekerjaan yang lebih ia senangi selain memancing..memancing dan memancing. Pagi itu seperti biasanya ia pergi menuju sebuah sungai kecil yang ada di kampungnya. Tidak lupa ia membawa sahabatnya berupa pancingan dan umpan yang telah ia siapkan sebelum ia berangkat. Dengan santai ia berjalan sambil menyusuri jalan setapak menuju ke arah sungai.
Tidak lama kemudian sampailah ia di sungai yang ia tuju itu. Disitu ia mulai berpikir dibagian mana kira-kira yang ada banyak ikannya. Sebenarnya ia sudah cukup mengenal daerah aliran sungai tersebut karena ia sering berada di situ menghabiskan waktu yang ditemani kail dan umpan. Tapi kali ini matanya tertuju pada sebuah jembantan kayu.
“Hmm, sepertinya akan sangat baik jika aku duduk dan menjatuhkan kail dari jembatan itu, dengan demikian aku bisa sambil bersantai sembari menunggu ikan menghampiri pancingku”
Segera ia bergegas menuju jembatan itu dan kemudian melepaskan setiap bawaannya. Kemudian tanpa berlama-lama lagi ia segera memasang umpan di kail pancingnya lalu menjatuhkan kail itu ke dalam sungai. Duduklah ia di jembatan kayu itu menunggu ikan yang akan datang. “Air sungai ini kelihatan sangat deras, aku tidak begitu yakin banyak ikan yang akan memakan umpanku”, ada sedikit keraguan dalam hatinya.
“Hmm, sepertinya akan sangat baik jika aku duduk dan menjatuhkan kail dari jembatan itu, dengan demikian aku bisa sambil bersantai sembari menunggu ikan menghampiri pancingku”
Segera ia bergegas menuju jembatan itu dan kemudian melepaskan setiap bawaannya. Kemudian tanpa berlama-lama lagi ia segera memasang umpan di kail pancingnya lalu menjatuhkan kail itu ke dalam sungai. Duduklah ia di jembatan kayu itu menunggu ikan yang akan datang. “Air sungai ini kelihatan sangat deras, aku tidak begitu yakin banyak ikan yang akan memakan umpanku”, ada sedikit keraguan dalam hatinya.
Waktu terus berjalan. Sudah berjam-jam ia berada di situ dan tak seekor ikanpun yang ia dapatkan. Walau belum mendapatkan ikan, ia kelihatan begitu santai dan sangat menikmati waktunya berada di jembatan itu. Mungkin karena suara burung-burung yang berada di pepohonan di tepian sungai ikut menemaninya dengan kicauannya yang bersemangat.
Waktu sudah beranjak menuju siang. Namun belum ada seekor ikanpun yang ia dapatkan. Tanpa ia sadari umpan yang ia bawapun sudah hampir habis. Ia tetap saja duduk di jembatan itu sambil mengayun-ayunkan kakinya.
Tak lama kemudian melintaslah seseorang di jembatan itu. Ternyata itu adalah Imam, seorang temannya. Lalu merekapun terlibat dalam sebuah percakapan.
“Hei Li, sudah dapat berapa banyak kamu hari ini?”, sapa Imam.
“Belum ada kawan. Dari tadi pagi aku disini tapi belum ada ikan yang kudapat”, Ali tersenyum.
Sambil memegang pancingnya dan mengayunkan kakinya, Ali balik bertanya,
“Kamu dari mana Mam, kelihatannya kamu sangat letih?”.
“Tidakkah kamu tahu Li, bahwa setiap hari aku keluar kampung untuk mencari pekerjaan di luar sana. Tidak seperti kamu yang bisanya cuma mancing saja!”.
Mendengar perkataan temannya itu Ali diam saja.
“Belum ada kawan. Dari tadi pagi aku disini tapi belum ada ikan yang kudapat”, Ali tersenyum.
Sambil memegang pancingnya dan mengayunkan kakinya, Ali balik bertanya,
“Kamu dari mana Mam, kelihatannya kamu sangat letih?”.
“Tidakkah kamu tahu Li, bahwa setiap hari aku keluar kampung untuk mencari pekerjaan di luar sana. Tidak seperti kamu yang bisanya cuma mancing saja!”.
Mendengar perkataan temannya itu Ali diam saja.
“Li, aku ingin hidup lebih serius. Aku tidak ingin berada di kampung ini terus. Aku ingin tinggal di kota dan hidup bahagia. Maka dari itu aku berusaha mencari kerja. Aku tidak mau lagi jadi orang susah. Aku harus jadi orang kaya. Kenapa kamu tidak berpikiran seperti itu Li?”
Ali masih saja diam sementara Imam melanjutkan bicaranya lagi,
“Li, aku ada saran untukmu. Coba kamu membuat sebuah jaring. Jadi kamu tidak perlu susah-susah menunggu ikan memakan umpanmu!”
Ali masih saja diam sementara Imam melanjutkan bicaranya lagi,
“Li, aku ada saran untukmu. Coba kamu membuat sebuah jaring. Jadi kamu tidak perlu susah-susah menunggu ikan memakan umpanmu!”
“Untuk apa?”
“Ya kamu tidak perlu capek duduk di situ seharian tanpa seekor ikan pun yang kau dapat. Itu pekerjaan sia-sia Li!”
“Ya kamu tidak perlu capek duduk di situ seharian tanpa seekor ikan pun yang kau dapat. Itu pekerjaan sia-sia Li!”
Ali tersenyum sambil memandangi aliran sungai yang jernih itu. Ia mengangkat pancingnya dan hendak memasang umpan lagi.
“Imam, apa bedanya jika aku memancing bila dibanding jika aku menjaring?”
“Imam, apa bedanya jika aku memancing bila dibanding jika aku menjaring?”
Sambil memegang pundak Ali, Imam menjelaskan apa maksud sarannya itu kepada Ali,
“Hmmm,..Li, Li, pantesan saja kau selama ini kelihatan begitu bodoh. Jika kamu punya jaring, tidak hanya satu ikan yang bisa kau dapat. Kau bisa mendapat banyak ikan, bisa lima, sepuluh, lima puluh. Ya..pokoknya bisa lebih banyak daripada biasanya!”
“Hmmm,..Li, Li, pantesan saja kau selama ini kelihatan begitu bodoh. Jika kamu punya jaring, tidak hanya satu ikan yang bisa kau dapat. Kau bisa mendapat banyak ikan, bisa lima, sepuluh, lima puluh. Ya..pokoknya bisa lebih banyak daripada biasanya!”
“Untuk apa ikan sebanyak itu Imam?” tanya Ali lagi.
“Li, kalau kamu mendapatkan banyak ikan, maka ikan itu bisa kau jual ke pasar dan mendapatkan uang”.
“Li, kalau kamu mendapatkan banyak ikan, maka ikan itu bisa kau jual ke pasar dan mendapatkan uang”.
“Untuk apa uang itu Imam?”.
“Li, kamu ini benar-benar bodoh ya! Dengan uang yang banyak kamu bisa beli perahu dan kamu bisa mencari ikan dengan jaringmu ke laut. Ikan yang akan kau dapatkan bisa lebih banyak lagi!”
“Li, kamu ini benar-benar bodoh ya! Dengan uang yang banyak kamu bisa beli perahu dan kamu bisa mencari ikan dengan jaringmu ke laut. Ikan yang akan kau dapatkan bisa lebih banyak lagi!”
Entah apa yang ada dalam pikiran Ali saat itu. Tapi yang jelas Imam menjadi agak marah ketika Ali berkata,
“Jika aku ke laut dan mendapatkan ikan yang lebih banyak, untuk apa semua itu Imam?”.
Imam tampak semakin jengkel menjelaskan maksudnya kepada Ali.
“Jika aku ke laut dan mendapatkan ikan yang lebih banyak, untuk apa semua itu Imam?”.
Imam tampak semakin jengkel menjelaskan maksudnya kepada Ali.
“Li, tidakkah kau sadar hidupmu sudah seperti ini sejak lama. Kerjamu hanya memancing. Kalaupun tidak memancing, kau hanya berladang. Apakah kau tidak ingin menjadi boss dan menjadi orang kaya Li?
Semakin banyak ikan yang kau dapatkan, maka uang yang akan kau miliki pun akan semakin melimpah. Kau bisa memiliki apa saja. Bisa membeli sebuah kapal yang besar. Bisa memiliki banyak karyawan yang akan bekerja di kapalmu.
Kau dapat mengarungi samudera sambil menjaring ikan dengan jaring raksasa. Dan kelak mungkin kau bisa memiliki rumah yang besar seperti istana. Sebab kau telah menjadi penangkap ikan yang paling sukses di dunia ini. Percayalah padaku Li!
Semakin banyak ikan yang kau dapatkan, maka uang yang akan kau miliki pun akan semakin melimpah. Kau bisa memiliki apa saja. Bisa membeli sebuah kapal yang besar. Bisa memiliki banyak karyawan yang akan bekerja di kapalmu.
Kau dapat mengarungi samudera sambil menjaring ikan dengan jaring raksasa. Dan kelak mungkin kau bisa memiliki rumah yang besar seperti istana. Sebab kau telah menjadi penangkap ikan yang paling sukses di dunia ini. Percayalah padaku Li!
“Untuk apa semua yang kau sebutkan itu Imam?”
“Huh, susah bicara dengan orang dungu sepertimu Li. Semua itu agar kau BAHAGIA!”. Maka dari itulah Aku seperti seperti ini. Setiap hari aku keluar kampung, mencari pekerjaan di luar sana.
Jika aku ingin bahagia, maka aku harus mencari semua yang kuinginkan. Mendapatkan pekerjaan, mendapatkan upah yang besar, mendapatkan uang yang banyak, dan menjadi orang kaya yang sesungguhnya. Dengan begitu aku akan BAHAGIA Li. Diam-diam, orang-orang akan mengakui kehebatannku.
“Huh, susah bicara dengan orang dungu sepertimu Li. Semua itu agar kau BAHAGIA!”. Maka dari itulah Aku seperti seperti ini. Setiap hari aku keluar kampung, mencari pekerjaan di luar sana.
Jika aku ingin bahagia, maka aku harus mencari semua yang kuinginkan. Mendapatkan pekerjaan, mendapatkan upah yang besar, mendapatkan uang yang banyak, dan menjadi orang kaya yang sesungguhnya. Dengan begitu aku akan BAHAGIA Li. Diam-diam, orang-orang akan mengakui kehebatannku.
Sejenak Ali terdiam mendengar perkataan temannya itu. Ia begitu setia memegang kailnya. Ia begitu menikmati air yang begitu jernih di bawah jembatan itu, berteman sepoi angin yang membelai pepohonan di situ.
“Imam teman baikku. Aku senang bertemu denganmu hari ini. Terima kasih telah meluangkan waktu bersamaku di jembatan ini. Sepertinya burung-burung di pepohonan itu ikut penasaran, apa yang sebenarnya yang kita bicarakan disini.
Tahukan kau Imam, sudah lama aku ingin menghabiskan waktu bersamamu tapi kau tidak pernah ada di rumah. Kau terlalu sibuk dengan pencarianmu di luar sana.
Apakah menurutmu aku tidak BAHAGIA Imam? Bagaimana kau bisa tahu semua tentang hal itu? Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi kepadamu. Akupun tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Aku hanya ingin menyampaikan kepadamu, SAAT INI DAN DI SINI, AKU BAHAGIA.! Terima kasih teman.
“Imam teman baikku. Aku senang bertemu denganmu hari ini. Terima kasih telah meluangkan waktu bersamaku di jembatan ini. Sepertinya burung-burung di pepohonan itu ikut penasaran, apa yang sebenarnya yang kita bicarakan disini.
Tahukan kau Imam, sudah lama aku ingin menghabiskan waktu bersamamu tapi kau tidak pernah ada di rumah. Kau terlalu sibuk dengan pencarianmu di luar sana.
Apakah menurutmu aku tidak BAHAGIA Imam? Bagaimana kau bisa tahu semua tentang hal itu? Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi kepadamu. Akupun tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Aku hanya ingin menyampaikan kepadamu, SAAT INI DAN DI SINI, AKU BAHAGIA.! Terima kasih teman.



0 comments:
Post a Comment