![]() |
Dibawah pohon ingatan yang tak rindang,
Ditumbangkan jaman bersama riuh jalan.
Dulu kunang-kunang sering menggelar pesta,
Berkelipan disela dedaunan penutup nisan.
Tapi kini, deru roda mencabik-cabik waktu,
Tak lagi kutatap ketakutan yang duduk disitu.
Dulu, kami sering menghitung berapa kali dada bertabuh.
Mengencangkan kaki berkejaran.
Padahal tak ada yang dicari, kecuali semut televisi dirumah tetangga.
Iya itu, kuburan termanis di puing-puing rimba,
Menyisakan kisah dipembaringan tua.
Kunang-kunang telah lama pergi,
Tak juga bintang langit rela mengganti.
Kecuali sisa serangga malam, termangu diatas gundukan.
Disitu, di kuburan itu, nostalgia masih berlarian,
Ketika gelap pernah datang dengan wajah aslinya,
Ketika celana pendek menjadi busana wajib tuk berpacu,
Dan ketika sandal-sandal sendu dalam genggaman.
Kini kuburan itu, disilaukan lampu-lampu kereta,
Setahun sekali tak heran mercon pun pecah diatasnya,
Memekakkan arwah yang tertidur.
Di kuburan itu, masih ada nafasku yang terengah,
Tertinggal di kepala bercampur abu dibibirku.
_/\_
AmarDara, 06-03-2014



0 comments:
Post a Comment